Pentingnya Strategi Bersaing bagi Pengusaha Sepatu

Toko-toko sepatu itu berjejer hampir di sepanjang Jalan Cibaduyut, Bandung. Ya, jalan Cibaduyut memang terkenal dengan sepatunya. Di Jalan Cibaduyut inilah sepatu dibuat dan dipasarkan, mulai dari sepatu anak-anak hingga dewasa.Sepatu ini dihasilkan oleh produsen lokal, asli Indonesia yang merupakan usaha mikro dan kecil.
Usaha mikro dan kecil diperlukan bagi suatu negara karena usaha mikro dan kecil dapat menyerap banyak tenaga kerja, sehingga dapat mengatasi masalah pengangguran. Dengan demikian usaha mikro dan kecil mempunyai kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan perekonomian negara.
Di Bandung sendiri, usaha mikro dan kecil mengalami kenaikan pada tahun 2003 hingga 2005. Hal ini terlihat dari nilai tambah bruto dan peranan usaha dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mengenai Nilai Tambah Bruto (NTB) dan Peranan Menurut Skala Usaha, terdapat kenaikan sebesar 43,81% pada tahun 2003, 44,21% pada tahun 2004, dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 44,30%. Dalam tiga tahun tersebut menunjukkan peningkatan peranan usaha kecil terhadap Nilai Tambah Bruto (NTB).
Ya, usaha sepatu di Cibaduyut ini disebut usaha mikro dan kecil karena usaha ini dimiliki oleh perorangan dan memiliki hasil penjualan maksimal Rp 2,5 milyar per tahunnya dan jumlah pekerja tak lebih dari 19 orang. Tidak hanya di Cibaduyut, di beberapa tempat lain di Jawa Barat seperti Bogor, Tasikmalaya, dan Ciamis, usaha sepatu ini ada.
Meskipun toko sepatu berjejer di sepanjang Jalan Cibaduyut, para pengusaha ini perlu untuk bersaing dengan pengusaha sepatu lain untuk mendapatkan keuntungan maksimal mereka. Strategi bersaing yang diterapkan oleh para pengusaha sepatu di Cibaduyut hampir semuanya sama, seperti menyebar katalog. Katalog ini diberikan kepada konsumen atau kepada para agen sepatu mereka. “Katalog ini isinya sepatu-sepatu produksi kita. Biasanya sekitar 3 bulan sekali ada katalog baru,” ujar salah seorang karyawan took di Cibaduyut yang tidak mau disebutkan namanya. Beberapa pengusaha sepatu memang menyediakan catalog hasil sepatu produksi mereka. Untuk bersaing dengan pengusaha sepatu lainnya, ada juga yang menyediakan layanan pengiriman sepatu kepada konsumen. “Kita bisa juga kirim sepatu untuk konsumen yang ada di luar kota. Jadi nanti tinggal telpon ke kita aja mau sepatu yang mana, ukuran berapa, terus kita kirim”, ujar Suheri, pemilik usaha sepatu “Repalts”.
Selain masalah persaingan, ada masalah lain dalam usaha persepatuan ini seperti sistem keuangan yang yang tidak benar dan penyuluhan kewirausahaan yang tidak tepat. Hal inilah yang mengundang Theo Suhardi untuk meneliti mengenai perilaku berwirausaha, kemampuan manajerial, dan strategi bersaing para pengusaha sepatu di Jawa Barat.
Pemelitiannya kemudian disusunnya dalam sebuah disertasi yang berjudul Pengaruh Perilaku Berwirausaha dan Kemampuan Manajerial terhadao Strategi Bersaing serta Dampaknya terhadap Kinerja. Lewat disertasinya ini, Theo Suhardi berhasil meraih gelar doctor ekonomi dari Universitas Padjadjaran, awal November lalu. Dalam penelitian ini, Theo mengambil populasi sebanyak 1275 usaha mikro dan kecil persepatuan, dengan sampel sebanyak 187 pemilik atau manajer usaha mikro dan kecil persepatuan.
Menurut Theo, sistem manajerial yang ada pada para pengusaha sepatu di Jawa Barat masih belum baik. “Keuangan rumah tangga dan keuangan usahanya masih dicampur, tidak ada pemisahan. Ini yang tidak baik. Dan juga para pengusaha itu tidak berani untuk menggaji diri mereka sebagai manajer. Ini yang salah, seharusnya mereka berani”, ucap Theo. Dari penelitiannya, Theo menyimpulkan bahwa ada kaitan yang erat antara perilaku berwirausaha, kemampuan manajerial, dan strategi bersaing terhadap kinerja pengusaha sepatu. “Kinerja itu dipenuhi dari perilaku berwirausaha, kemampuan manajerial, dan strategi bersaing”, jelas Theo.
Theo sendiri mengkhususkan penelitiannya pada usaha mikro dan kecil sepatu karena menurutnya sepatu merupakan primadona Bandung. “Jins dan sepatu itu kan primadonanya Bandung. Kalau primadona ini dibiarkan, bisa hilang”, ucap Theo. Karena itulah, Theo meneliti usaha mikro dan kecil persepatuan karena dia berpendapat usaha sepatu dapat dihidupkan kembali menjadi primadona Bandung. “Sepati itu primadonanya Bandung dan ini menjadi peluang yang bagus untuk dihidupkan kembali. Karena menurut penelitian di luar negeri, 80% ekonomi negara ditopang oleh usaha mikro dan kecil”, jelas Theo.
Meskipun demikian, usaha persepatuan ini juga memiliki beberapa kelemahan, seperti kemampuan kewirausahaan, motivasi kewirausahaan dan kinerja pengusaha. Kelemahan-kelemahan tersebut jika tidak diperbaiki bisa saja memperburuk sebuah usaha sepatu dan akhirnya berhenti di tengah jalan. Penelitian Theo ini memang dikhususkan pada tiga aspek yaitu perilaku berwirausaha, kemampuan manajerial, dan strategi bersaing.
Dalam disertasinya, Theo menuliskan perilaku berwirausaha adalah melaksanakan kegiatan kewirausahaan yang merupakan aplikasi dari kreativitas dan keinovasian untuk mengambil peluang yang ada dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dengan cara baru dan berbeda untuk memberikan nilai tambah seseorang. Pengusaha mikro dan kecil juga membutuhkan kemampuan kewirausahaan itu untuk mengembangkan usahanya. Sedangkan kelemahan kemampuan manajerial yang ada pada pengusaha sepatu itu adalah lemahnya pemasaran mereka. “Kemampuan mengatur orang, mengatur rencana, itu yang kurang. Jadi pemilik atau manajer harus memiliki jiwa kepemimpinan”, terang Theo. Kelemahan dalam perilaku berwirausaha ini seperti kurangnya ketegasan. Sebanyak 67% pemilik usaha bertindak tidak tegas dengan jarang mengubah aturan. Perilaku berwirausaha inilah yang perlu dirombak oleh pengusaha agar orang termotivasi untuk berusaha.
Salah satu cara menumbuhkan motivasi kewirausahaan adalah dengan pendidikan atau penyuluhan. Sayangnya, penyuluhan yang ada hanya ditujukan pada usaha mikro dan kecil yang sudah memiliki badan hukum. Padahal sebanyak 82,89% usaha mikro dan kecil tidak berbadan hukum. “Inilah yang salah. Kenapa hanya yang sudah berbadan hukum yang dirangkul. Padahal masih banyak yang perlu dirangkul seperti usaha kecil yang tidak berbadan hukum”, kata Theo. Hal ini juga yang dapat membuat para pengusaha kecil tidak memahami pentingnya motivasi kewirausahaan dan perilaku berwirausaha.
Sebanyak 49,73% order produksi pengusaha sepatu diperoleh dari permintaan konsumen. Strategi bersaing yang ada dalam usaha persepatuan inilah yang perlu diubah menurut Theo. Menurutnya, strategi bersaing ini juga dapat untuk mempertahankan pelanggan lama dan mendapatkan pelanggan baru. “Servis untuk pelanggan ini juga perlu diperhatikan dan ini bisa dijadikan sebagai strategi bersaing”, ucap Theo.
Strategi bersaing lainnya juga bisa diterapkan dengan mengeluarkan produk baru dan pengembangan produk. Namun yang menjadi masalah sebanyak 40,11% pengembangan produk hanya sebatas rencana saja. Masalah lain yang ada dalam strategi bersaing ini adalah logo perusahaan atau logo dagang. Sebanyak 54,55% atau 102 perusahaan baru berencana membuat logo tahun depan. Dan hanya 11,23% atau 21 perusahaan saja yang memiliki logo dan sudah dipatenkan. “Kemampuan strategi bersaing itu banyak dipengaruhi oleh jiwa kewirausahaan atau perilaku berwirausaha. Sebanyak 44% perilaku itu mempengaruhi strategi bersaing”, ujar Theo.
Menurut Prof. Dr. Sucherly, promotor Theo Suhardi, apa yang ditulis Theo dalam disertasinya mengenai usaha mikro dan kecil merupakan sebuah fenomena dari fakta dan diteliti dengan teori manajemen Usaha Kecil Menengah (UKM). “Jadi, masalah itu dipikirkan sesuai kerangka pemikiran dia sesuai teori”, ujar Sucherly. Hasil dari penelitian Theo pun diamini oleh Sucherly. “Ya, memang begitu, kemampuan manajerial dan perilaku berwirausaha berkaitan dengan kinerja”, ujar Sucherly.
Secara keseluruhan, para pengusaha sepatu di Jawa Barat masih harus memperhatikan beberapa hal untuk dibenahi. Theo menulisakan dalam disertasinya bahwa kesulitan modal masih menjadi masalah pokok yang dihadapi pengusaha sepatu. Masalah lainnya adalah kemampuan komunikasi, dan kreatifitas juga masih kurang serta kurangnya mengambil resiko dalam usaha. “Jadi, yang kurang seperti ini harus diperbaiki dan yang sudah cukup bagus harus ditingkatkan lagi”, ujar Theo.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Posting Komentar